Pasang Iklan Gratis

Trump dan JD Vance klaim Iran siap terima inspeksi nuklir, Teheran langsung membantah: Tidak ada komitmen baru

 Washington dan Teheran kembali menunjukkan perbedaan sikap terkait program nuklir Iran, hanya sehari setelah putaran pertama perundingan pascaperang digelar di Swiss. Pemerintah Iran membantah klaim Amerika Serikat yang menyebut Teheran telah setuju membuka kembali akses bagi inspektur nuklir internasional.

Pernyataan tersebut muncul setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pembicaraan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai kembalinya inspeksi ke fasilitas nuklir Iran bisa dimulai dalam waktu dekat.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan baru yang dibuat terkait inspeksi nuklir.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Teheran tidak berencana memberikan akses kepada inspektur untuk memasuki lokasi-lokasi nuklir yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.

"Kami tidak membuat komitmen baru apa pun," kata Baqaei kepada kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Menurutnya, setiap bentuk kerja sama dengan IAEA tetap akan dilakukan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan parlemen Iran dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara tersebut.

AS Bersikeras Iran Sudah Setuju

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tetap bersikukuh bahwa Iran telah menerima tuntutan inspeksi internasional sebagai bagian dari proses negosiasi yang sedang berlangsung.

"Terlepas dari protes dan pernyataan palsu Iran yang menyatakan sebaliknya, mereka telah sepenuhnya dan secara total menyetujui inspeksi," tulis Trump melalui media sosial.

Trump bahkan menegaskan bahwa negosiasi lanjutan tidak akan berlangsung apabila Iran menolak syarat tersebut.

"Jika mereka tidak menyetujuinya, tidak akan ada negosiasi lebih lanjut," tambahnya.

Senada dengan Trump, JD Vance menyebut pembahasan mengenai kembalinya inspektur IAEA ke Iran dapat dimulai paling lambat pekan ini.

Saat berada di Swiss, Vance mengatakan proses tersebut bahkan berpotensi dimulai 'secepat hari ini'.

Perundingan Swiss Hasilkan Peta Jalan 60 Hari

Perbedaan pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran pertama pembicaraan di kawasan resor Bürgenstock, Swiss.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis mediator Qatar dan Pakistan, kedua negara disebut telah menyepakati sebuah "peta jalan" untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Vance menyebut pertemuan tersebut berhasil menciptakan 'fondasi yang sangat baik' bagi proses diplomasi berikutnya.

Selain isu nuklir, delegasi kedua negara juga membahas pembukaan kembali Selat Hormuz serta langkah-langkah menjaga gencatan senjata di kawasan.

Latar Belakang Konflik Inspeksi Nuklir

Hubungan Iran dan IAEA memburuk setelah perang 12 hari yang terjadi tahun lalu. Saat itu, Iran menghentikan akses IAEA ke sejumlah fasilitas nuklir yang menjadi target serangan Israel dan Amerika Serikat.

Sebulan kemudian, badan pengawas nuklir PBB tersebut mengumumkan penarikan sisa inspekturnya dari Iran.

Sebelumnya, pada 2015, Iran bersama enam negara besar dunia yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Tiongkok menandatangani kesepakatan nuklir yang memberikan akses inspeksi luas kepada IAEA.

Namun pada 2018, dalam masa jabatan pertamanya sebagai Presiden AS, Donald Trump menarik Washington keluar dari perjanjian tersebut dengan alasan kesepakatan itu merupakan 'perjanjian yang buruk'.

Kini, setelah perang dan ketegangan berkepanjangan, isu inspeksi nuklir kembali menjadi salah satu titik krusial yang menentukan berhasil atau tidaknya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran dalam 60 hari ke depan.

0 Response to "Trump dan JD Vance klaim Iran siap terima inspeksi nuklir, Teheran langsung membantah: Tidak ada komitmen baru"

Posting Komentar