Perang berbalik gerogoti Putin, eks penasihat Bank Sentral Rusia dan profesor Oxford angkat bicara
Perang yang dilancarkan Rusia ke Ukraina justru dinilai mulai berbalik menggerogoti fondasi kekuasaan Presiden Vladimir Putin. Membengkaknya biaya perang, tekanan terhadap ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpuasan publik disebut menjadi sinyal awal melemahnya daya tahan rezim Kremlin.
Peringatan tersebut disampaikan mantan penasihat Bank Sentral Rusia Alexandra Prokopenko serta profesor sejarah global Universitas Oxford Peter Frankopan. Keduanya menilai tekanan yang terus menumpuk akibat perang berpotensi memicu keretakan di dalam lingkaran elite Rusia, meski Putin hingga kini masih memegang kendali politik.
Dalam opininya di Financial Times, Prokopenko mengatakan perang memaksa Kremlin meninggalkan disiplin fiskal yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi Rusia. Menurut peneliti Carnegie Russia Eurasia Center itu, pemerintah kini mulai mengubah berbagai aturan anggaran demi memastikan pembiayaan perang tetap berjalan.
Salah satu langkah yang dinilai paling mencolok ialah keputusan parlemen Rusia yang memberikan kewenangan lebih besar kepada Kementerian Keuangan untuk meningkatkan belanja negara dan menambah utang tanpa harus menunggu pengesahan anggaran baru secara formal.
Tekanan fiskal itu semakin nyata. Hingga Mei, defisit anggaran Rusia telah mencapai sekitar 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 83 miliar dolar AS, dua kali lebih besar dibandingkan defisit sepanjang tahun 2025. Sementara itu, Dana Kekayaan Nasional Rusia yang selama ini menjadi bantalan fiskal terus menyusut akibat digunakan untuk menutup kekurangan anggaran.
"Otokrasi yang terpojok sedang menulis ulang aturan fiskal sambil mengabaikan parlemen dan menolak mengakui bahaya yang semakin sulit dikendalikan. Ini mungkin tidak sedramatis kudeta, tetapi beginilah kemunduran sebuah rezim dimulai," tulis Prokopenko.
Di saat yang sama, tekanan perang juga semakin besar. Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan semakin sering menjangkau wilayah Rusia, termasuk kilang minyak dan fasilitas industri pertahanan di sekitar Moskow maupun St. Petersburg. Korban di pihak militer Rusia terus bertambah, sementara biaya kompensasi bagi keluarga prajurit ikut membengkak.
Kondisi ekonomi dalam negeri juga mulai tertekan. Kelangkaan bahan bakar memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, sementara inflasi dan tingginya suku bunga semakin membebani masyarakat Rusia.
Menurut Prokopenko, Kremlin kini tidak lagi mampu menjalankan tiga target sekaligus, yakni membiayai perang, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
"Perang kini semakin dibiayai dengan membebankan beban kepada masyarakat dan menangguhkan aturan negara sendiri. Jika terus berlanjut, Rusia akan menghadapi ekonomi yang lebih miskin, masyarakat yang lebih marah, sistem keuangan yang semakin rapuh, serta pendanaan perang yang tidak lagi dapat diandalkan," tulisnya.
Tekanan juga mulai muncul dari kalangan yang selama ini dikenal mendukung operasi militer Rusia. Seorang blogger militer sekaligus veteran perang Ukraina, Aleksandr Lunin, sempat mengunggah video yang viral setelah menuding adanya penyiksaan terhadap prajurit oleh komandan mereka sendiri.
Lunin bahkan memperingatkan bahwa jika keluhan para prajurit terus diabaikan, "tentara akan mengarahkan senjatanya ke Kremlin." Meski sehari kemudian ia menarik kembali pernyataan tersebut, video itu telah menyebar luas hingga Kremlin mengakui mengetahui adanya seruan tersebut.
Sementara itu, Peter Frankopan menilai ancaman terbesar bagi Putin bukanlah revolusi yang terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, bahaya justru datang dari akumulasi tekanan ekonomi dan meningkatnya kekecewaan terhadap perang yang perlahan mengikis loyalitas kelompok elite di sekitar Kremlin.
Frankopan mengatakan penderitaan ekonomi yang berkepanjangan dapat mendorong sebagian faksi di dalam pemerintahan Rusia untuk meyakini bahwa sudah saatnya memulai arah baru. "Retakan-retakan kecil hari ini bisa berubah menjadi rekahan besar di kemudian hari," ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat Putin mengambil langkah yang lebih berisiko demi mempertahankan kekuasaannya, sehingga meningkatkan kemungkinan eskalasi konflik di Ukraina maupun kawasan Eropa lainnya.
"Waspadalah terhadap orang yang sedang tenggelam. Beberapa bulan ke depan kemungkinan akan menjadi masa yang berbahaya, baik di dalam maupun di luar Rusia, ketika Putin berjuang mati-matian agar tetap bertahan," kata Frankopan.
Tak Lagi Mampu Menopang Perang
Perang yang berkepanjangan membuat beban keuangan Rusia terus meningkat. Sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, Kremlin harus mengalokasikan anggaran yang semakin besar untuk membiayai operasi militer, memproduksi persenjataan, memberikan kompensasi kepada keluarga prajurit, hingga mempertahankan industri pertahanan agar tetap beroperasi di tengah sanksi Barat.
Konsekuensinya mulai terlihat pada kondisi fiskal negara. Hingga Mei 2026, defisit anggaran Rusia telah mencapai sekitar 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 83 miliar dolar AS. Angka tersebut bahkan sudah melampaui dua kali lipat defisit sepanjang tahun 2025, menunjukkan bahwa laju pengeluaran pemerintah jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan penerimaan negara.
Untuk menutup kekurangan tersebut, pemerintah Rusia semakin bergantung pada Dana Kekayaan Nasional (National Wealth Fund), dana cadangan yang selama bertahun-tahun menjadi penyangga ketika harga energi turun atau ekonomi menghadapi guncangan. Namun, penggunaan dana itu secara terus-menerus membuat cadangannya menyusut jauh dibandingkan kondisi sebelum perang.
Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah juga semakin sempit. Pendapatan dari sektor energi masih menjadi tulang punggung anggaran negara, tetapi fluktuasi harga minyak, sanksi internasional, serta meningkatnya biaya logistik dan perdagangan membuat kemampuan Rusia menghimpun penerimaan negara tidak lagi sekuat sebelum invasi dimulai.
Sejumlah analis menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa model pembiayaan perang Rusia mulai kehilangan daya tahannya. Selama beberapa tahun terakhir, Kremlin masih mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kombinasi cadangan devisa, pendapatan energi, serta intervensi negara. Namun, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap anggaran sehingga pemerintah dipaksa mengubah aturan fiskal, menambah utang, dan menguras cadangan negara.


0 Response to "Perang berbalik gerogoti Putin, eks penasihat Bank Sentral Rusia dan profesor Oxford angkat bicara"
Posting Komentar